Minggu, 18 Januari 2009

KREATIVITAS ANAK


Menurut Guilford dalam Mulyadi (2004), penelitian tentang kreativitas dimulai dari Galton yang memulainya dengan meneliti tentang orang – orang genius pada tahun 1869. Saat itu ia mencoba memahami cara kerja fungsi mental para pemimpin dan tokoh – tokoh yang berhasil mengetengahkan ide – ide cemerlang. Perhatiannya terutama tertuju untuk mengupas faktoriter (keturunan) dari intelegensi dan kreativitas. Sehubungan dengan itu, maka penelitian Galton dianggap sebagai sumbangan yang sangat penting dalam upaya para ahli memahami kreativitas, meski tidak berhasil secara penuh untuk menciptakan teori dan definisi yang mantap tentang hal tersebut.

Di lapangan intelektual, di tahun 1950, Guilford mengeluarkan satu model untuk menjelaskan kreativitas manusia bernama Model Struktur Intelek. Di dalamnya terdapat konsep berpikir konvergen dan divergen. Konvergen adalah cara berpikir untuk memberikan satu-satunya jawaban yang benar sedangkan berpikir divergen adalah pemikiran yang memberikan serangkaian alternatif jawaban yang beraneka ragam.

Di Indonesia, sejarah penelitian kreativitas dimulai dari penelitian Munandar, Utami yang ditulis oleh Mulyadi (2004), dalam disertasinya Creativity and Education dengan mengkonstruksi tes - tes kreativitas pertama di Indonesia yang mencangkup Tes Kreativitas Verbal dan Skala Sikap Kreatif. Hal ini dilanjutkan dengan pembentukan Yayasan Pengembangan Kreativitas pada tahun 1980. Kegiatannya antara lain, melakukan pengkajian dan penerbitan penyusunan paket-paket pelatihan seperti Paket Pemecahan Masalah secara Kreatif, pelatihan guru anak berbakat dan sebagainya.

Sejarah perkembangan pemikiran kreativitas menunjukkan bahwa penelitian tentang hal ini sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari

A. Definisi Kreativitas

Menurut Pamilu (2007), di dalam kamus Webster dijelaskan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mencipta yang ditandai dengan orisinalitas dalam berekspresi yang bersifat imajinatif.

Di antara berbagai definisi mengenai kreativitas, yang menonjol adalah orisinalitas. Artinya adalah bahwa suatu produk, proses atau orangnya mampu menciptakan sesuatu yang belum diciptakan oleh orang lain. Kreativitas ini sangat besar manfaatnya bagi kehidupan seseorang maupun kehidupan masyarakat. Tanpa adanya kreativitas, tidak akan ada kemajuan. Sebagai pribadi ataupun sebagai kelompok masyarakat, kreativitas sangat diperlukan agar mereka dapat survive menjalani kehidupan. Apalagi di zaman sekarang ini, kreativitas jelas sangat dibutuhkan agar seseorang tidak menjadi pecundang dalam persaingan antarbangsa dan antarnegara, terutama dalam era globalisasi ini. Oleh karena itu, setiap orang dituntut untuk kreatif, dan kreativitas ini sebenarnya ada pada semua orang, namun dalam kadar dan bentuk yang berbeda-beda (Pamilu,2007).

B. Karakteristik Anak Dengan Kreativitas Tinggi

Safaria (2005) yang dikutip oleh Csikszentmihalyi (1996) mengemukakan bahwa yang paling pokok menandai individu kreatif adalah kemampuan mereka yang luar biasa untuk menyesuaikan diri terhadap hampir semua situasi dan untuk melakukan apa yang perlu dilakukan dalam mencapai tujuannya. Csikszentmihalyi (1996) juga menentukan sepuluh pasang karakteristik individu yang kreatif, yang seakan-akan serba paradoks tetapi saling terkait satu sama lain. Karakteristik tersebut yaitu:

1. Mereka memiliki energi fisik dan psikis yang luar biasa, sehingga terlihat seolah-olah tidak pernah capek atau lelah. Mereka mampu bekerja berjam-jam dengan konsentrasi penuh dalam proyek kreatifnya, tetapi mereka juga bisa santai dalam situasi lainnya.

2. Mereka cerdas dan cerdik, tetapi pada saat yang sama mereka juga naif. Mereka disatu sisi memiliki kebijaksanaan, tetapi juga bisa seperti anak-anak (childlike), mereka mampu berpikir konvergen sekaligus divergen. Memiliki insight yang mendalam, tetapi tampak pula ketidakmatangan emosional.

3. Mereka bisa bermain dan bisa berdisiplin. Ini menunjukkan mereka memiliki keluwesan pribadi yang tinggi.

4. Mereka memiliki imajinasi yang tinggi, tetapi juga berpikir sangat realistis.

5. Mereka memiliki pola kepribadian yang berselang-seling antara introvert pada saat ini dan exstrovert di saat lainnya.

6. Mereka dapat bersikap rendah hati, namun sekaligus dapat membanggakan diri.

7. Individu kreatif memiliki kecenderungan androgini, yaitu mereka mampu melepaskan diri dari stereotipe gender (maskulin-feminim).

8. Individu kreatif di sisi lain bisa berjiwa pemberontak, namun di sisi lain mampu bersikap konservatif.

9. Kebanyakan individu kreatif sangat bersemangat (passionate) bila menyangkut karya mereka, tetapi juga sangat objektif dalam penilaian karyanya sendiri.

10. Mereka memiliki keterbukaan dan sensitivitas yang tinggi sehingga mudah menderita ketika menerima kritikan pedas orang lain. Namun di saat yang sama mereka merasakan kegembiraan yang luar biasa.

Torrance (dalam Munandar, 2002) mengemukakan ciri-ciri lain dari anak kreatif, yaitu:

1. Berani dalam pendirian dan keyakinannya. Artinya anak tidak takut untuk berbeda dalam segala hal dengan orang lain. Mereka memegang teguh pendirian dan keyakinannya sekaligus berani mengungkapkannya. Mereka tidak terjebak dalam formitas yang berlebihan dengan lingkungannya.

2. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ini merupakan ciri yang menonjol dalam diri setiap anak. Sayangnya banyak orang tua tidak mendorong dan memfasilitasi rasa ingin tahu anaknya. Orang tua kebanyakan enggan menjawab pertanyaan anaknya, tidak sabar, bahkan ada yang memarahi anak dengan mengatakan "kamu anak kecil tidak usah tanya-tanya,...kamu ribut aja sih, diam sana,...jangan ganggu ayah dong, ayah lagi sibuk,...sana tanya sama ibumu..."

3. Mandiri dalam berpikir dan dalam memberikan pertimbangan. Anak menunjukkan kemauan untuk memecahkan masalahnya secara mandiri. Tidak mudah meminta saran pada orang lain, sebelum dia sendiri mencoba memecahkannya.

4. Mampu berkonsentrasi secara terus-menerus dalam proyek kreatifnya. Artinya anak memiliki semangat dan energi yang besar dalam melakukan kegiatan yang diminatinya. Anak tidak mudah teralihkan oleh hal lain sebelum tugasnya selesai. Anak menunjukkan konsistensi yang tinggi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

5. Intuitif artinya dalam memecahkan suatu masalah anak tidak hanya berdasar pemikiran rasional, tetapi juga alam bawah sadarnya.

6. Memiliki keuletan yang tinggi, artinya mereka tidak pernah putus asa. Ini juga merupakan ciri terpenting bagi anak kreatif. Mengapa demikian, karena proses kreatif membutuhkan waktu yang lama untuk diselesaikan. Seperti apa yang dikatakan Edison dalam Safaria (2005), bahwa 1% kecerdasan dan 99% kerja dan usaha yang tidak mengenal lelah.

7. Mereka tidak begitu saja menerima pendapat orang lain (termasuk figur otoritas) jika tidak sesuai dengan pendirian dan keyakinannya.

8. Memiliki kepercayaan diri yang cukup tinggi. Mereka berani mengekspresikan dirinya dan memiliki keyakinan bahwa mereka bisa menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.

C. Faktor – faktor yang Mempengaruhi Kreativitas Anak

Penelitian Dacey (1989) yang ditulis ol;eh Safaria (2005) menunjukkan bahwa keluarga dari anak kreatif sangat jauh berbeda dengan keluarga biasa lainnya. Keluarga dari anak kreatif memperlihatkan suatu karakteristik tersendiri, yaitu:

1. Orang tua sangat mendukung bahkan mendorong anak untuk mengembangkan minat, bakat dan potensi kreatifnya dengan melakukan usaha-usaha yang optimal seperti menyediakan fasilitas belajar, memilihkan mentor terbaik bagi anak atau menyekolahkan anak di sekolah terbaik untuk memupuk kreativitasnya.

2. Orang tua dari anak kreatif tidak terlalu banyak ikut campur dalam minat dan kegiatan anak, tidak bertindak otoriter, terlalu mengawasi atau membatasi kegiatan anaknya. Mereka hanya memberi batasan bagi anak tentang perilaku yang boleh dilakukan anak. Mereka tidak terlalu permisif tetapi juga tidak terlalu otoriter.

3. Orang tua menunjukkan tingkat humor yang tinggi. Mereka sering bercanda bersama anaknya, dan ikut berperan aktif dalam proses kreatif anaknya.

4. Orang tua mendorong anak untuk tidak mudah putus asa dan mendorong kerja keras dalam proses kreatif anaknya.

5. Orang tua dari anak kreatif sangat perhatian dan terlibat langsung dalam pendidikan anaknya.

Safaria (2005) juga menegaskan pengaruh sikap orang tua terhadap perkembangan potensi kreatif anak. Beberapa sikap orang tua yang menentukan perkembangan potensi kreatif anak yaitu:

1. Kebebasan, artinya orang tua memberikan kebebasan pada anaknya untuk bereksperimen, berkarya atau mengekspresikan kreativitasnya dirumah. Hal ini disebabkan potensi kreatif anak membutuhkan ruang bebas dan kesempatan untuk dipupuk sehingga berkembang menjadi aktual. Jika orang tua terlalu membatasi dan mengarahkan kegiatan anak, maka anak kehilangan kesempatan untuk menempa potensi kreatifnya.

2. Respek, artinya orang tua dapat menghargai dan menerima anak apa adanya. Orang tua menunjukkan keinginan untuk mendengarkan pendapat anak. Orang tua percaya bahwa anak mampu melakukan tugas-tugasnya dengan baik. Menghargai keunikan anak sebagai pribadi yang utuh. Ini berarti orang tua tidak memaksakan keinginannya pada anak, atau memaksa anak untuk mengubah keunikan pribadinya.

3. Kedekatan emosi yang sedang. Anak yang kreatif membutuhkan kehangatan, perhatian dan kasih sayang dari orang tuanya. Namun bukan ketergantungan emosional yang besar pada orang tuanya. Potensi kreatif anak akan terhambat jika anak lebih banyak diliputi oleh suasana emosi yang penuh permusuhan, penolakan dan rasa diasingkan.

4. Penekanan pada prestasi, bukan angka. Orang tua mendorong dan memotivasi anak untuk mencapai prestasi tertinggi dan menghasilkan karya-karya terbaiknya. Tetapi orang tua tidak terlalu menekankan anak untuk mencapai nilai atau rangking tertinggi di kelasnya. Mereka lebih menekankan proses yang jujur dan bertanggungjawab, dari pada sekedar menekankan nilai tinggi tetapi hasil perbuatan curang.

5. Orang tua aktif dan mandiri. Maksudnya orang tua menjadi model bagi anak sehingga anak mencontoh perilaku orang tuanya. Orang tua dari anak yang kreatif menunjukkan kepercayaan diri, tidak terlalu terpengaruh oleh status sosial dan tuntutan sosial yang hanya menekankan pada pencapaian materi. Mereka menunjukkan kemampuan terbaiknya pada anak dan sekaligus menunjukkan kreativitasnya pada anak. Sehingga menjadi jelas bahwa anak yang kreatif ikut dipengaruhi oleh orang tua yang kreatif pula.

6. Menghargai kemandirian, artinya orang tua tidak memanjakan anak, terlalu over-protective pada anak, tidak terlalu membatasi kegiatan anaknya, namun mendorong anak untuk melakukan kegiatannya secara mandiri. Orang tua dari anak yang kreatif justru menginginkan anaknya untuk belajar mandiri, dan memberi kesempatan pada anak untuk melatih kemandiriannya.

Dalam buku yang berjudul ”Panduan Mencetak Anak Super Kreatif” karangan Safaria (2005), penelitian di Indonesia yang dilakukan oleh profesor psikologi dari Universitas Indonesia, Munandar, Utami menegaskan hal yang serupa tentang pengaruh sikap orang tua menjadi dua dimensi yaitu sikap orang tua yang memupuk kreativitas anak dan tidak memupuk kreativitas anak beberapa sikap orang tua yang memupuk kecerdasan kreatif anak yaitu:

1. Menghargai pendapat anak dan mendorongnya untuk mengungkapkan.

2. Memberi waktu kepada anak untuk berpikir, merenung dan berkhayal.

3. Memperbolehkan anak mengambil keputusan sendiri. Dengan anak mengambil keputusannya sendiri, maka anak akan belajar bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.

4. Mendorong keingintahuan anak, untuk menjajaki dan mempertanyakan banyak hal. Orang tua menfasilitasi keingintahuan anak dengan memberikan informasi yang layak. Bisa dilakukan dengan memberikan buku-buku untuk dibacakan pada anak, bisa pula dengan mengajak anak ke objek yang ingin diketahuinya, misalnya ke museum biologi.

5. Meyakinkan anak bahwa orang tua menghargai apa yang ingin dicobalakukan anak dan hasil akhirnya ini bisa dilakukan dengan memberikan anak kesempatan untuk melakukan eksperimennya secara aman.

6. Menunjang dan mendorong kegiatan kreatif anak. Artinya memberikan fasilitas yang mendukung, membimbing anak dalam eksperimentasinya, atau mengasah bakat anak dengan berbagai kegiatan positif, misalnya lomba, kursus atau pelatihan.

7. Menikmati keberadaannya bersama anak. Orang tua senang bersama anak dan menjalani komunikasi dua arah yang terbuka, empatis dan hangat.

8. Memberi pujian yang sungguh-sungguh dan tepat sasaran pada anak. Pujian harus diberikan ketika anak telah berhasil melakukan proses kreatifnya. Pujian hendaknya diberikan tidak berdasarkan hasil, tetapi lebih pada proses. Artinya orang tua memuji kerja keras, ketekunan dan semangat anak dalam proses kreatifnya, walaupun hasilnya belum begitu memuaskan.

9. Mendorong kemandirian anak dalam bekerja. Orang tua hendaknya jangan terlalu ikut campur dan terlalu mengarahkan anak. Biarkan anak mengembangkan dan menerapkan ide-idenya tersebut. Anak didorong untuk menemukan solusi atas masalahnya sendiri. Hal itu akan membuat anak lebih bertanggung jawab dan mandiri dalam kehidupannya.

10. Menjalin hubungan kerja sama yang baik dengan anak. Artinya orang tua mau membantu anak ketika anak membutuhkannya. Bukan dalam arti membantu secara penuh, tetapi mengarahkan anak. Kerja sama ini bisa ditunjukkan orang tua dengan mendukung kegiatan kreatif anak. Tetapi menyediakan waktu di kala anak membutuhkan saran-saran dari orang tuanya.

D. Kiat – kiat Dasar Mengembangkan Kreativitas Anak

Beragam bentuk kecerdasan yang perlu dikembangkan, mengharuskan stimulasi yang beragam pula. Salah satu yang utama adalah stimulasi motorik. Mengapa demikian? Karena perkembangan motorik anak usia balita sangatlah pesat, terutama motorik kasar. Asal tahu saja, perkembangan motorik anak di usia balita terkait erat dengan perkembangan fisik dan rasa percaya diri. Sedangkan bagi anak usia enam sampai dua belas tahun, perkembangan motorik terkait dengan kebutuhannya untuk bersosialisasi, mengenal aturan main, berkompetisi, mengenali sekaligus menyalurkan minat terhadap sesuatu seperti seni dan sebagainya.

Seperti apa dan bagaimana stimulasi motorik yang harus dilakukan orang tua terhadap anak?

1. Stimulasi motorik kasar untuk anak balita berupa:

a. Mengajarkan anak mengontrol keseimbangan, misalnya mengajarkan keseimbangan kepada anak ketika anak berjalan, berlari, berputar, dan berhenti. Hal tersebut bisa diintegrasikan menjadi permainan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi “jurang”.

b. Melatih koordinasi gerak, keseimbangan, dan keberanian dengan cara: misalnya memanjat pohon dan tangga.

c. Berlatih mempertajam gerak refleks dengan melakukan permainan melempar dan menangkap bola.

d. Melatih dengan mengajaknya main lompat ke atas, ke depan, dan sebagainya. Lakukan dengan menggunakan dua kaki dan satu kaki secara bergantian.

e. Mengajak anak bergerak dan menari mengikuti irama. Kegiatan ini sangat baik untuk melatih harmonisasi anak sehingga bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

f. Berenang sangat baik dilakukan anak untuk melatih banyak hal dalam dirinya seperti kekuatan fisik, keberanian, mengukur kemampuan, dan sebagainya.

2. Stimulasi motorik halus untuk anak balita meliputi:

a. Melipat kertas menjadi sebuah karya dan menggambar dengan krayon, melukis dengan cat air. Manfaat melukis dengan cat air hampir sama dengan melukis menggunakan krayon. Hanya saja cat air aman digunakan oleh anak usia empat sampai lima tahun. Finger painting, yakni melukis dengan jari melatih pengembangan imajinasi, memperhalus koordinasi motorik halus, dan mengasah rasa seni, khususnya seni rupa.

b. Meronce manik-manik. Ini dapat melatih konsentrasi selain melatih ketajaman koordinasi mata dan tangan anak.

c. Main lilin/dough. Permainan ini sangat membantu mengasah kreativitas anak. Selain melatih ketelitian dan kesabaran, jiwa seni bisa didapat anak lewat permainan ini.

d. Tracing (mengikuti titik-titik yang berbentuk gambar/huruf/angka). Kegiatan ini baik dilakukan anak kelas TK A dan B. Sebabnya, kegiatan ini merupakan pelajaran menulis permulaan sekaligus melatih konsentrasi anak.

3. Stimulasi motorik kasar untuk anak berusia enam sampai dua belas tahun meliputi:

a. Olah raga seperti bermain kasti, basket, dan bola kaki, berenang, lompat jauh, dan lari maraton.

b. Kegiatan outbound.

4. Stimulasi motorik halus untuk anak usia enam sampai dua belas tahun. Manfaat yang bisa diperoleh kurang lebih sama dengan stimulasi motorik halus pada balita. Hanya saja caranya yang berbeda, yaitu disesuaikan dengan usia anak. Berikut ini penjelasannya:

a. Menggambar dan melukis dengan berbagai media.

b. Membuat kerajinan tanah liat.

c. Membuat seni kerajinan tangan, misalnya membuat boneka dari kain perca.

d. Bermain alat musik seperti gitar, biola, piano dan sebagainya.

Selain stimulasi motorik, anak juga perlu diberi rangsangan yang bersifat kognisi. Sebelum menstimulasi kognisi anak, orang tua harus mengetahui terlebih dahulu perkembangan kognitif sesuai dengan usia anak. Contohnya, perkembangan berbagai konsep dasar seperti mengenal bau, warna, huruf, angka, serta pengetahuan umum yang akrab dengan kehidupan sehari-harinya. Di samping itu, perkembangan kognitif berkaitan erat dengan perkembangan bahasa.

Untuk merangsang kognisi anak, berbagai kegiatan yang dapat dilakukan orang tua antara lain meliputi membacakan buku cerita anak, mendongengkan berbagai cerita anak-anak, dan mengisahkan kembali suatu cerita yang telah dibaca anak. Berbagai cerita mengenai pengalaman sehari-hari yang bisa dilakukan secara verbal, gambar, atau tulisan, juga baik dilakukan untuk merangsang kognisi anak. Kegiatan-kegiatan ini baik sekali apabila divariasikan dengan berbagai kegiatan seperti permainan ataupun membuat kerajinan yang menarik.

Tidak ada komentar: