Senin, 19 Januari 2009

Teknik Komunikasi Terapeutik

Banyak metode atau teknik komunikasi terapeutik yang dapat diterapkan oleh petugas dalam membina hubungan interpersonal dengan klien. Petugas dapat secara aktif mendengarkan pembicaraan atau keluhan-keluhan pasien. Kemudian dalam menanggapi pembicaraan klien, petugas sebaiknya menggunaan pertanyaan terbuka dan tidak terkesan menghakimi pasien. Mengulang dan mengklarifikasi topik atau isi dan ide pokok pembicaraan yang dianggap penting juga sangat baik dilakukan oleh petugas untuk memperjelas tujuan dari komunikasi yang sedang dilangsungkan.

Jika isi pembicaraan dengan klien cenderung melenceng, petugas perlu melakukan focusing, untuk mengarahkan kembali pada topik pembicaraan yang diperlukan. Rasa humor dalam berkomunikasi perlu dipelihara oleh petugas dengan tetap memperhatikan kondisi dan situasi saat melempar humor. Memposisikan diri sejajar dengan klien sangat baik dilakukan, agar petugas dapat dengan mudah menangkap isi pembicaraan klien, dan klien merasa senang dan aman berada dekat dengan petugas.

Petugas juga perlu menjaga sikapnya, misalnya dengan mengendalikan emosi saat klien memperlihatkan perilaku yang kurang menyenangkan, yang penting dilakukan oleh petugas adalah mengarahkan perilaku klien tanpa harus melukai perasaannya. Menunjukkan sikap terbuka dan siap menolong, tidak menyilangkan kaki atau melipat tangan karena sikap ini menunjukkan sikap kurang terlibat. Bila klien duduk sendiri, ikutlah duduk di sebelah klien atau tepuklah punggungnya dan tanyakan ada apa. Gunakan teknik sentuhan misalnya dengan menyentuh tangannya agar klien merasa dihargai dan mempercayai kita.
Teknik selanjutnya adalah memberikan informasi untuk pendidikan kesehatan pada klien, sehingga pengetahuan klien akan kesehatan dirinya meningkat yang selanjutnya diharapkan dapat merubah perilaku yang sebelumnya kurang adaptif menjadi lebih adaptif. Sara-saran yang dianggap perlu untuk mengatasi masalah klien perlu diberikan petugas, baik ditanya maupun tidak ditanyakan oleh klien. Melakukan pendidikan kesehatan, bisa pula dilakukan dengan membagi persepsi dan pengalaman petugas dengan klien.

Komunikasi Terapeutik

Hubungan terapeutik antara dokter, petugas, dan petugas kesehatan lain dengan klien adalah hubungan kerja sama yang ditandai dengan tukar menukar perilaku, perasaan, pikiran dan pengalaman dalam membina hubungan intim yang terapeutik. Sumber lain menjelaskan bahwa komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien.
Komunikasi terapeutik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar petugas dengan pasien. Persoalan mendasar dari komunikasi ini adalah adanya saling kebutuhan antar petugas dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi di antara petugas dengan pasien, petugas membantu dan pasien menerima bantuan.

A. Tahapan / Fase dalam Komunikasi Terapeutik
Komunikasi terapeutik terdiri atas 4 fase, yaitu fase pra interaksi, fase orientasi, fase kerja dan fase terminasi. Setiap fase atau tahapan komunikasi terapeutik mencerminkan uraian tugas dari petugas. Purwanto (1994) membagi tahapan komunikasi dalam tiga fase, yaitu fase orientasi, fase lanjutan dan fase terminasi.

1. Fase Prainteraksi
Pada fase prainteraksi ini, petugas harus mengeksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan sendiri. Petugas juga perlu menganalisa kekuatan kelemahan profesional diri. Selanjutnya mencari data tentang klien jika mungkin, dan merencanakan pertemuan pertama dengan pasien.

2. Fase Orientasi
Fase ini meliputi pengenalan dengan pasien, persetujuan komunikasi atau kontrak komunikasi dengan pasien, serta penentuan program orientasi. Program orientasi tersebut meliputi penentuan batas hubungan, pengidentifikasian masalah, mengakaji tingkat kecemasan diri sendiri dan pasien, serta mengkaji apa yang diharapkan dari komunikasi yang akan dilakukan bersama antara petugas dan klien.
Tugas petugas pada fase ini adalah menentukan alasan klien minta pertolongan, kemudian membina rasa percaya, penerimaan dan komunikasi terbuka. Merumuskan kontrak bersama klien, mengeksplorasi pikiran, perasaan dan perbuatan klien sangat penting dilakukan petugas pada tahap orientasi ini. Dengan demikian petugas dapat mengidentifikasi masalah klien, dan selanjutnya merumuskan tujuan dengan klien.

3. Fase kerja / lanjutan
Pada fase kerja ini petugas perlu meningkatkan interaksi dan mengembangkan faktor fungsional dari komunikasi terapeutik yang dilakukan. Meningkatkan interaksi sosial dengan cara meningkatkan sikap penerimaan satu sama lain untuk mengatasi kecemasan, atau dengan menggunakan teknik komunikasi terapeutik sebagai cara pemecahan dan dalam mengembangkan hubungan kerja sama. Mengembangkan atau meningkatkan faktor fungsional komunikasi terapeutik dengan melanjutkan pengkajian dan evaluasi masalah yang ada, meningkatkan komunikasi pasien dan mengurangi ketergantungan pasien pada petugas, dan mempertahankan tujuan yang telah disepakati dan mengambil tindakan berdasarkan masalah yang ada.
Tugas petugas pada fase kerja ini adalah mengeksplorasi stressor yang terjadi pada klien dengan tepat. Petugas juga perlu mendorong perkembangan kesadaran diri klien dan pemakaian mekanisme koping yang konstruktif, dan mengarahkan atau mengatasi penolakan perilaku adaptif.

4. Fase terminasi
Fase terminasi ini merupakan fase persiapan mental untuk membuat perencanaan tentang kesimpulan pengobatan yang telah didapatkan dan mempertahankan batas hubungan yang telah ditentukan. Petugas harus mengantisipasi masalah yang akan timbul pada fase ini karena pasien mungkin menjadi tergantung pada petugas. Pada fase ini memungkinkan ingatan pasien pada pengalaman perpisahan sebelumnya, sehingga pasien merasa sunyi, menolak dan depresi. Diskusikan perasaan-perasaan tentang terminasi.
Pada fase terminasi tugas petugas adalah menciptakan realitas perpisahan. Petugas juga dapat membicarakan proses terapi dan pencapaian tujuan. Saling mengeksplorasi perasaan bersama klien tentang penolakan dan kehilangan, sedih, marah dan perilaku lain, yang mungkin terjadi pada fase ini.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Mahasiswa

A. Kondisi Fisiologis
Kondisi fisiologis mahasiswa terdapat dua macam, yaitu kondisi fisiologis yang bersifat umum dan yang bersifat khusus. Kondisi fisiologis umum berpengaruh dalam menunjang proses belajar mahasiswa. Mahasiswa yang segar jasmaninya serta kondisi kesehatan terawat dengan baik, akan meningkatkan kemampuan belajarnya. Kondisi fisiologis khusus melibatkan cara memfungsikan panca indera saat proses belajar berlangsung, terutama penglihatan dan pendengaran. Mahasiswa yang kondisi fisiknya lemah, sering sakit-sakitan, cacat salah satu atau beberapa dari panca indera, prestasinya juga akan kurang dibandingkan dengan anak yang normal. Maka perlulah diperhatikan kondisi fisik mahasiswa yang belajar.

B. Kondisi Psikologis
Setelah diterima sebagai mahasiswa, merupakan suatu keharusan bahwa kondisi psikologis harus benar-benar dipersiapkan. Hal ini perlu disadari, oleh karena tanpa suatu kesadaran yang mantap, akan berakibat tersendat-sendatnya proses dan keberhasilan belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Saifuddin Azwar (2002) membedakan kondisi psikologis ini dalam 2 kategori, yaitu variabel non kognitif dan kemampuan kognitif. Variabel non kognitif terdiri dari minat, motivasi, dan variabel-variabel kepribadian lainnya. Sedangkan variabel kognitif terdiri atas kemampuan khusus (bakat) dan kemampuan umum (intelegensia).

C. Kemampuan Pembawaan
Kita ketahui bahwa tidak ada dua orang yang pembawaannya sama. Juga di dalam kemampuan belajar, setiap orang mempunyai potensi kemampuan sendiri-sendiri. Misalnya kemampuan pembawaan berupa kecerdasan. Kecerdasan sangat menentukan kecepatan atau penerimaan pelajaran. Tetapi jelas mahasiswa yang cerdas tanpa memelihara kecerdasannya yakni tanpa belajar dengan teratur, akan berakibat tersendat-sendat perjalanan studinya. Sebaliknya, yang kurang cerdas, tapi belajar rajin, teratur, terjadwal dan terprogram, meskipun tidak secepat kemampuan mahasiswa yang cerdas, akan tetap lancar studinya.

D. Kemauan Belajar (Minat dan Motivasi)
Tak ada seorangpun yang memungkiri, bahwa tanpa minat dan motivasi tidak akan tercapai hal yang diharapkan. Motivasi adalah penting sekali bagi belajar. Untuk dapat memberi motivasi pada orang yang belajar, kita harus mengetahui dasar psikis dari orang yang belajar. Orang yang belajar adalah orang yang hidup yang telah mempunyai kebiasaan-kebiasaan, kesenangan dan ketidaksenangan, emosi, sikap kecemasan serta ketakutan. Selain itu, manusia datang ke dunia telah mempunyai keinginan-keinginan dan kebutuhan-kebutuhan. Kebutuhan ini makin lama makin meningkat dan makin kompleks.

E. Sikap terhadap Guru dan Mata Kuliah
Sikap mahasiswa terhadap guru dan mata kuliahnya akan mempengaruhi proses belajarnya. Mahasiswa yang benci terhadap guru tidak akan lancar belajarnya. Mungkin sikap siswa terhadap guru dipengaruhi oleh penampilan dan sikap dari guru yang bersangkutan. Guru yang tidak ramah, selalu muram, dan cara berpakaian yang kurang baik akan mempengaruhi sikap siswa. Demikian pula sikap mahasiswa terhadap mata kuliah juga merupakan faktor penentu keberhasilan belajar.

F. Bimbingan
Di dalam belajar, mahasiswa butuh bimbingan. Beimbingan ini perlu diberikan untuk mencegah usaha-usaha yang membuta sehingga anak tidak mengalami kegagalan, melainkan dapat membawa kesuksesan. Bimbingan dapat menghindari kesalahan dan memperbaikinya.

G. Ulangan
Didalam belajar perlu adanya ulangan-ulangan. Hal ini merupakan elemen yang vital dalam belajar. Adanya ulangan ini dapat menunjukkan pada orang yang belajar kemajuan-kemajuan dan kelemahan-kelemahannya. Dengan demikian orang yang belajar akan menambah usahanya untuk belajar. Penting diperhatikan tentang memberitahukan hasil ulangan, dan perlu mediskusikan kesalahan-kesalahan yang terjadi, supaya kesalahan baru tidak diperbuat lagi.

Faktor Individual dalam Pengambilan Keputusan

Sebelumnya telah dikemukakan proses dasar pengambilan keputusan yang dilakukan seseorang dalam pengambilan keputusan. Dalam kenyataannya pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seseorang tidak sistematis seperti proses yang dikemukakan sebelumnya. Keputusan individu dalam organisasi biasanya dilakukan untuk permasalahan-permasalahan yang tidak kompleks. Dalam pengambilan suatu keputusan individu dipengaruhi oleh tiga faktor utama yaitu nilai individu, kepribadian dan kecenderungan dalam pengambilan resiko.

A. Nilai individu pengambil keputusan
Nilai-nilai individu pengambil keputusan merupakan keyakinan dasar yang digunakan seseorang jika ia dihadapkan pada permasalahan dan harus mengambil suatu keputusan. Nilai-nilai ini telah tertanam sejak kecil melalui suatu proses belajar dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Dalam banyak keadaan individu bahkan tidak berfikir untuk menyusun / menilai keburukan dan lebih ditarik oleh kesempatan untuk menang.

B. Kepribadian
Keputusan yang diambil seseorang juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti kepribadian. Dua variabel utama kepribadian yang berpengaruh terhadap keputusan yang dibuat, seperti ideologi versus kekuasaan dan emosional versus obyektivitas. Beberapa pengambil keputusan memiliki suatu orientasi ideologi tertentu yang berarti keputusan dipengaruhi oleh suatu filosofi atau suatu perangkat prinsip tertentu. Sementara itu pengambil keputusan atau orang lain mendasarkan keputusannya pada suatu yang secara politis akan meningkatkan kekuasaannya secara pribadi.

Beberapa pengambil keputusan kadang kala emosionalnya mempengaruhi keputusan yang diambilnya. Emosional tersebut dapat berupa kecenderungan kepribadian seseorang atau emosional yang berasal dari kebutuhan akan perlindungan. Emosional dapat mempengaruhi cara suatu permasalahan dianalisis, jenis informasi dan alternatif yang dipertimbangkan dalam proses pengambilan keputusan. Informasi yang obyektif diabaikan, dan keputusan hanya didasarkan pada perasaannya saja. Sementara itu beberapa pengambil keputusan yang lain lebih obyektif, dimana mereka menghindari adanya kekeliruan persepsi tentang permasalahan maupun informasi yang berkaitan dengannya.

C. Kecenderungan terhadap pengambilan resiko
Untuk meningkatkan kecakapan dalam membuat keputusan, perawat haus membedakan situasi ketidakpastian dari situasi resiko, karena keputusan yang berbeda dibutuhkan dalam kedua situasi tersebut. ketidakpastian adalah kurangnya pengetahuan hasil tindakan, sedangkan resiko adalah kurangnya kendali atas hasil tindakan dan menganggap bahwa si pengambil keputusan memiliki pengetahuan hasil tindakan walaupun ia tidak dapat mengendalikannya. Lebih sulit membuat keputusan dibawah ketidakpastian dibanding dibawah kondisi bahaya. Dibawah ketidakpastian si pengambil keputusan tidak memiliki dasar rasional terhadap pilihan satu strategi atas strategi lainnya.

Dalam mengambil suatu keputusan ada orang yang senang dengan resiko dan ada orang yang tidak senang. Ada juga orang yang dikatakan netral terhadap resiko. Orang yang senang dengan resiko akan berbeda dalam mengevaluasi serangkaian alternatif maupun memilih suatu alternatif dengan mereka yang tidak senang dengan resiko. Dalam keputusan investasi misalnya, orang yang senang dengan resiko akan memilih investasi yang memberikan hasil yang besar sekalipun resikonya juga besar. Sebaliknya, orang yang tidak senang dengan resiko akan memilih alternatif investasi yang resikonya paling kecil sekalipun hasilnya juga rendah.
Neil Niven (2002) menerangkan secara aplikatif bahwa jika suatu keputusan mempunyai resiko yang tinggi, orang akan lebih mungkin mengikuti aturan yang rasional dan matematis. Banyak keputusan yang berhubungan dengan kesehatan pasien mencakup resiko tingkat tinggi dan karenanya mempunyai komponen penggunaan subyektif dan membutuhkan pertimbangan yang cermat.

Elemen-elemen Dasar dalam Pengambilan Keputusan

1. Menetapkan tujuan
Pengambilan keputusan harus memiliki tujuan yang akan mengarahkan tujuannya, apakah spesifik yang dapat diukur hasilnya ataupun sasaran yang bersifat umum. Tanpa penetapan tujuan, pengambil keputusan tidak bisa menilai alternatif atau memilih suatu tindakan. Keputusan pada tingkat individu, tujuan ditentukan oleh masing-masing orang sesuai dengan sistem nilai seseorang. Pada tingkat kelompok dan organisasi, tujuan ditentukan oleh pusat kekuasaan melalui diskusi kelompok, konsensus bersama, pembentukan kualisi dan berbagai macam proses yang mempengaruhi. Ditambahkan oleh Wijono, bahwa tujuan harus dibagi menurut pentingnya, ada tujuan yang bersifat harus atau tidak bisa ditawar, dan ada tujuan yang bersifat keinginan, yang mana masih bisa ditawar.

2. Mengidentifikasi Permasalahan
Proses pengambilan keputusan umumnya dimulai setelah permasalahan diidentifikasi. Permasalahan merupakan kondisi dimana adanya ketidaksamaan antara kenyataan yang terjadi dengan apa yang diharapkan. Permasalahan dalam organisasi dapat berupa rendahnya produktivitas, adanya konflik disfungsional, biaya operasional yang terlalu tinggi, pelayanan tidak memuaskan klien, dan lain-lain. Pengambilan keputusan yang efektif memerlukan adanya identifikasi yang tepat atas penyebab permasalahan. Jika penyebab timbulnya permasalahan tidak dapat diidentifikasi dengan tepat, maka permasalahannya yang ada tidak dapat diselesaikan dengan baik. Ada tiga kesalahan yang sering terjadi dalam mengidentifikasi permasalahan, yaitu mengabaikan permasalahan yang ada, pemusatan perhatian pada gejala dan bukan pada penybab permasalahan yang sebenarnya, serta melindungi diri karena informasi dianggap mengancan harga diri.

3. Mengembangkan sejumlah alternatif
Setelah permasalahan diidentifikasi, kemudian dikembangkan serangkaian alternatif untuk menyelesaikan permasalahan. Organisasi harus mengkaji berbagai informasi baik interen maupun eksteren untuk mengembangkan serangkaian alternatif yang diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang terjadi. Pengembangan sejumlah alternatif memungkinkan seseorang menolak untuk membuat keputusan yang terlalu cepat dan membuat lebih mungkin pencapaian keputusan yang efektif.
Proses pengambilan keputusan yang rasional mengharuskan pengambil keputusan untuk mengkaji semua alternatif pemecahan masalah yang potensial. Akan tetapi dalam kenyataannya seringkali terjadi bahwa proses pencarian alternatif pemecahan masalah seringkali terbatas.

4. Penilaian dan pemilihan alternatif
Setelah berbagai alternatif diidentifikasi, kemudian dilakukan evaluasi terhadap masing-masing alternatif yang telah dikembangkan dan dipilih sebuah alternatif yang terbaik. Alternatif-alternatif tindakan dipertimbangkan berkaitan dengan tujuan yang ditentukan, apakah dapat memenuhi keharusan atau keinginan. Alternatif yang terbaik adalah dalam hubungannya dengan sasaran atau tujuan yang hendak dicapai. Bidang ilmu statistik dan riset operasi merupakan model yang baik untuk menilai berbagai alternatif yang telah dikembangkan.

5. Melaksanakan keputusan
Jika salah satu dari alternatif yang terbaik telah dipilih, maka keputusan tersebut kemudian harus diterapkan. Sekalipun langkah ini sudah jelas, akan tetapi sering kali keputusan yang baik sekalipun mengalami kegagalan karena tidak diterapkan dengan benar. Keberhasilan penerapan keputusan yang diambil oleh pimpinan bukan semata-mata tanggung jawab dari pimpinan akan tetapi komitmen dari bawahan untuk melaksanakannya juga memegang peranan yang penting (Gillies, 1996; Gitosudarmo, 1997).
Dalam mengevaluasi dan memilih alternatif suatu keputusan seharusnya juga mempertimbangkan kemungkinan penerapan dari keputusan tersebut. Betapapun baiknya suatu keputusan apabila keputusan tersebut sulit diterapkan maka keputusan itu tidak ada artinya. Pengambil keputusan membuat keputusan berkaitan dengan tujuan yang ideal dan hanya sedikit mempertimbangkan penerapan operasionalnya (Gitosudarmo, 1997).

6. Evaluasi dan pengendalian
Setelah keputusan diterapkan, pengambil keputusan tidak dapat begitu saja menganggap bahwa hasil yang diinginkan akan tercapai. Mekanisme sistem pengendalian dan evaluasi perlu dilakukan agar apa yang diharapkan dari keputusan tersebut dapat terealisir. Penilaian didasarkan atas sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan. Tujuan yang bersifat khusus dan mudah diukur dapat mempercepat pimpinan untuk menilai keberhasilan keputusan tersebut. Jika keputusan tersebut kurang berhasil, di mana permasalahan masih ada, maka pengambil keputusan perlu untuk mengambil keputusan kembali atau melakukan tindakan koreksi. Masing-masing tahap dari proses pengambilan keputusan perlu dipertimbangkan dengan hati-hati, termasuk dalam penetapan sasaran tujuan (Wijono, 1999; Gitosudarmo, 1997).

Jenis-jenis Keputusan
Jenis-jenis keputusan dalam 2 kategori, yaitu keputusan yang direncanakan / diprogram dan keputusan yang tidak direncanakan / tidak terprogram.

A. Keputusan yang diprogram
Keputusan yang diprogram merupakan keputusan yang bersifat rutin dan dilakukan secara berulang-ulang sehingga dapat dikembangkan suatu prosedur tertentu. Keputusan yang diprogram terjadi jika permasalahan terstruktur dengan baik dan orang-orang tahu bagaimana mencapainya. Permasalahan ini umumnya agak sederhana dan solusinya relatif mudah. Di perguruan tinggi keputusan yang diprogram misalnya keputusan tentang pembimbingan KRS, penyelenggaraan Ujian Akhir Semester, pelaksanaan wisuda, dan lain sebagainya (Gitosudarmo, 1997).

B. Keputusan yang tidak diprogram
Keputusan yang tidak diprogram adalah keputusan baru, tidak terstrutur dan tidak dapat diperkirakan sebelumnya. Tidak dapat dikembangkan prosedur tertentu untuk menangani suatu masalah, apakah karena permasalahannya belum pernah terjadi atau karena permasalahannya sangat kompleks dan penting. keputusan yang tidak diprogram dan tidak terstruktur dengan baik, apakah karena kondisi saat itu tidak jelas, metode untuk mencapai hasil yang diinginkan tidak diketahui, atau adanya ketidaksamaan tentang hasil yang diinginkan (Wijono, 1999).

Keputusan yang tidak diprogram memerlukan penanganan yang khusus dan proses pemecahan masalah dengan intuisi dan kreatifitas. Tehnik pengambilan keputusan kelompok biasanya dilakukan untuk keputusan yang tidak diprogram. Hal ini disebabkan oleh karena keputusan yang tidak diprogram biasanya bersifat unik dan kompleks, dan tanpa kriteria yang jelas, dan umumnya dilingkari oleh kontroversi dan manuver politik (Wijono, 1999). Gillies (1996) menyebutkan bahwa keputusan yang tidak diprogram adalah keputusan kreatif yang tidak tersusun, bersifat baru, dan dibuat untuk menangani suatu situasi dimana strategi/prosedur yang ditetapkan belum dikembangkan.

Pengambilan Keputusan

A. Definisi
Dee Ann Gullies (1996) menjelaskan definisi Pengambilan keputusan sebagai suatu proses kognitif yang tidak tergesa-gesa terdiri dari rangkaian tahapan yang dapat dianalisa, diperhalus, dan dipadukan untuk menghasilkan ketepatan serta ketelitian yang lebih besar dalam menyelesaikan masalah dan memulai tindakan. Definisi yang lebih sederhana dikemukakan oleh Hani Handoko (1997), pembuatan keputusan adalah kegiatan yang menggambarkan proses melalui mana serangkaian kegiatan dipilih sebagai penyelesaian suatu masalah tertentu.

B. Cara Pengambilan Keputusan
Banyak cara atau gaya dalam pengambilan keputusan. Ada orang yang cenderung menghindari masalah, ada juga yang berusaha memecahkan / menyelesaikan masalah, bahkan ada yang mencari-cari masalah. Pada prinsipnya, cara pengambilan keputusan mengacu pada bagaimana seseorang mengolah informasi, apakah lebih dominan menggunakan pikirannya, ataukah dengan perasaannya. Setelah semua informasi diperoleh melalui fungsi persepsi, maka seseorang harus melakukan sesuatu dengan informasi tersebut. Informasi tersebut harus diolah untuk memperoleh suatu kesimpulan guna mengambil suatu keputusan ataupun membentuk suatu opini. Ada gambaran preferensi mengenai dua cara yang berbeda tentang bagaimana seseorang mengambil keputusan ataupun memberikan penilaian, yaitu dengan berfikir dan dengan perasaan.
Salah satu cara untuk mengambil keputusan adalah dengan mempergunakan daya nalar. Dengan pikiran biasanya kita akan memperkirakan konsekwensi logis dari suatu tindakan ataupun pilihan yang diambil. Apabila kita mengambil keputusan atas dasar pikiran, maka kita akan mengambil keputusan tersebut secara objektif berdasarkan sebab dan akibat. Setelah melalui analisa atas dasar fakta dan data yang ada, maka kita akan mengambil keputusan sesuai dengan konsekwensi logis yang terjadi, walaupun mungkin terdapat hal-hal yang kurang mengenakkan. Orang dengan preferensi daya nalar dalam proses pengambilan keputusan, cenderung untuk mencari kebenaran yang seobjektif mungkin. Mereka pada umumnya sangat mahir dalam menganalisa mana yang benar dan mana yang salah’
Cara yang lain untuk mengambil keputusan adalah dengan mempergunakan perasaan. Perasaan disini bukan berarti emosi, melainkan dengan mempertimbangkan dampak dari suatu putusan terhadap diri sendiri dan/atau orang lain. Apakah manfaatnya bagi diri sendiri dan/atau orang lain (tanpa mempersyaratkan terlebih dahulu bahwa hal tersebut haruslah logis). Pengambilan keputusan atas dasar perasaan ini berlandaskan pada nilai-nilai pribadi atau norma-norma, dan bukan mengacu pada tindakan yang dapat disebut emosionil. Apabila kita mengambil keputusan berdasarkan perasaan, kita akan mempertanyakan seberapa jauh kita pribadi akan melibatkan diri secara langsung, seberapa jauh kita merasa turut bertanggung jawab terhadap dampak atas keputusan yang diambil, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap orang lain. Mereka yang mempunyai preferensi menggunakan perasaan dalam mengambil keputusan, cenderung bersikap simpatik, bijaksana dan sangat menghargai sesama.

C. Faktor yang Terkait dengan Pengambilan Keputusan
1. Kecenderungan Dalam Memfokuskan Perhatian
Extroversion dan introversion adalah skala yang menggambarkan preferensi kearah mana seseorang lebih suka memfokuskan perhatian. Ada dua arah yang berlawanan kemana seseorang dapat memfokuskan perhatian yaitu kearah dunia diluar dirinya atau kearah dunia didalam dirinya.
Orang yang lebih menyukai extroversion, cenderung untuk memfokuskan perhatiannya kepada dunia di luar dirinya, yaitu terhadap orang-orang sekelilingnya dan kejadian-kejadian disekitarnya. Ketika sedang melaksanakan extroversion dia akan sangat bergairah terhadap apa yang sedang berlangsung disekitarnya, dan inilah yang akan menimbulkan kecenderungan kearah mana dia mengarahkan perhatian dan energinya. Orang extrovert lebih menyukai berkomunikasi melalui kata-kata dari pada dengan tulisan. Mereka akan lebih mudah memahami sesuatu setelah mengalaminya terlebih dahulu, oleh sebab itu mereka adalah orang yang menyukai tindakan dari pada ide/pemikiran (action oriented).
Orang yang lebih menyukai introversion cenderung untuk memfokuskan perhatiannya kedalam dunia pemikirannya sendiri. Pada saat mereka sedang melakukan introversion, mereka bergairah terhadap apa yang sedang bergolak di dalam pemikirannya, dan inilah yang akan menimbulkan kecenderungan untuk mengarahkan perhatian dan energinya terhadap pemikiran tersebut. Orang yang introvert cenderung untuk merasa lebih nyaman dan tertarik apabila menghadapi suatu pekerjaan yang menuntut pembahasan dan pemikiran yang dapat dilakukan sendiri secara tenang. Mereka cenderung untuk mencoba mengerti dan memahami sesuatu sebelum mencoba atau mengalaminya. Oleh karena itu mereka cenderung untuk selalu berfikir terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan.

2. Bagaimana Cara Seseorang Memperoleh Informasi
Sensing dan Intuition adalah skala yang menggambarkan preferensi terhadap dua cara yang berbeda perihal bagaimana anda memperoleh, merasakan dan mencoba memahami sesuatu atau informasi. Suatu proses bagaimana anda menjalankan fungsi persepsi terhadap dunia luar. Informasi yang relevan diperlukan untuk membuat keputusan manajemen berkualitas tinggi, namun informasi tersebut jika berlebihan akan dapat mengganggu pengambilan keputusan. Demikian pula sebaliknya, jika informasi tersebut terlalu sedikit.
Salah satu cara untuk merasakan dan memahami sesuatu adalah dengan mempergunakan panca indra kita. Melalui mata, telinga, penciuman dan indra lainnya, individu dapat merasakan dan memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Panca indra sangatlah berguna untuk dapat merasakan dan memahami apa yang terjadi saat ini dan secara nyata. Dengan demikian mereka cenderung realistik dan praktis. Mereka biasanya sangat mahir untuk bekerja dengan berbagai macam data dan fakta.
Cara yang lain untuk memahami sesuatu dengan intuisi, dimana kita mencoba untuk memahami makna atau lambang, hubungan serta pola-pola yang ada, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya, lebih dari sekedar apa yang telah kita tangkap melalui panca indra. Melalui intuisi individu mencoba untuk memahami gambaran secara keseluruhan suatu masalah dan mencoba untuk memperoleh pola dasar hubungan antar unsur-unsurnya dalam masalah tersebut. Orang yang lebih menyukai intuisi cenderung akan tumbuh dan berkembang menjadi lebih mampu melihat kemungkinan-kemungkinan lain dan cara baru untuk menangani suatu masalah. Mereka sangat menghargai imajinasi dan inspirasi baru.

3. Bagaimana Seseorang Bersikap Terhadap Dunia Luar
Judgement dan Perception adalah skala yang menggambarkan preferensi bagaimana seseorang di dalam hidup ini menghadapi dunia luar, dengan perkataan lain bagaimana ia menanganinya atau mengambil sikap terhadapnya. Arah yang diambil dalam mengambil sikap ini, sangat erat berkaitan dengan dua skala terdahulu, yaitu skala pikiran dan perasaan yang berhubungan dengan sikap mengambil keputusan atau skala sensing dan intuisi yang berhubungan dengan sikap perseptif.
Mereka yang lebih suka mengambil sikap mengambil keputusan, Judgement (baik berdasarkan pikiran, atau perasaan) cenderung untuk mengambil sikap hidup yang terencana dan teratur, serta berkeinginan sedapat mungkin mengatur dan mengendalikan hidupnya. Apabila kita sedang menggunakan preferensi sikap mengambil keputusan, kita berusaha untuk mengambil suatu ketetapan atau keputusan dan kemudian melaksanakannya. Dengan demikian orang yang mempunyai preferensi sikap mengambil keputusan, cenderung untuk menghendaki agar segala sesuatunya jelas, teratur dengan baik dan bila ada masalah ingin segera diselesaikan.
Mereka yang lebih suka mengambil sikap perseptif apabila menghadapi dunia luar (baik itu menggunakan indra/sensing, atau dengan intuisi) cenderung untuk bersikap bebas spontan dan fleksibel dalam menghadapi hidup. Ketika kita mempergunakan fungsi persepsi, kita mengumpulkan segala macam informasi dan membiarkan segala macam kemungkinan tetap terbuka. Oleh karena itu orang dengan preferensi sikap hidup perseptif, cenderung untuk mencoba memahami hidup dari pada mencoba untuk mengendalikannya. Dengan mengandaalkan kemampuannya untuk beradaptasi dengan situasi dan keadaan, mereka cenderung untuk tetap terbuka terhadap segala macam kemungkinan dan mencoba untuk menikmati serta mengalami setiap kejadian dalam hidup.

D. Kombinasi Fungsi dalam Pengambilan Keputusan
1. Sensing Plus Thinking (ST)
Kombinasi ini adalah kombinasi Indera dan Pikiran. Orang ST pada setiap saat hanyalah tertarik pada hal-hal yang nyata, suatu realitas. Baginya realitas berarti apa yang dapat diamati, yang dapat dikumpulkan, dapat diverifikasi secara langsung dengan menggunakan panca indranya, mata, hidung, telinga, dan sebagainya. Karena cara proses pengambilan keputusannya berdasarkan pikirannya, maka mereka mengandalkan analisa yang logis dan urutan yang sistimatis dalam setiap proses. Mereka lebih mengandalkan kaidah sebab-akibat dalam mencapai keputusan ataupun kesimpulan akhir.

2. Sensing Plus Feeling (SF)
Indera dan Perasaan. Orang SF juga cenderung untuk mengamati realitas pada setiap situasi. Akan tetapi karena proses pengambilan keputusannya didasarkan pada perasaan, mereka membuat keputusan dengan mempertimbangkan dampaknya pada orang-orang yang terkena akibat keputusan itu. Kemampuan pengamatannya yang tinggi, terutama pada manusia, membuat mereka sangat sensitif terhadap reaksi dan perasaan orang-orang pada umumnya.

3. Intuition plus Feeling (NF)
Intuisi dan Perasaan. Orang NF membuat keputusannya dengan simpatik dan penuh pertimbangan manusiawi. Karena Intuitif, mereka pada dasarnya agak kurang tertarik pada fakta, tetapi lebih pada kemungkinan yang akan terjadi. Mereka lebih tertarik pada hal-hal yang baru, sesuatu yang mungkin belum terjadi saat ini tetapi mungkin akan terjadi dalam masa mendatang, proyek-proyek baru, atau susuatu pemikiran yang harus diteliti lebih lanjut, dan sebagainya. Terlebih lagi apabila hal-hal baru tersebut menyangkut manusia, hal tersebut akan sangat menarik baginya.

4. Intuition Plus Thinking (NT)
Intuisi dan Pikiran. Orang NT juga merupakan manusia yang senang melihat hal-hal yang mungkin terjadi, akan tetapi karena mereka lebih menyukai menggunakan pikiran, sehingga mereka akan menangani hal-hal yang mungkin terjadi atas dasar analisa obyektif dan rasional. Mereka akan tertarik pada pekerjaan dimana mereka dapat mempergunakan keahlian analisanya untuk memprediksi kemungkinan yang akan terjadi, atau sesuatu rekayasa. Hal-hal serupa ini banyak dijumpai dalam bidang sains dan teknologi ataupun dalam bidang karya ilmiah/akademis.

Minggu, 18 Januari 2009

PERANAN KADER DALAM KEGIATAN PENINGKATAN GIZI BALITA


A. Penimbangan Balita dan Pencatatan Hasil Timbangan

Penimbangan balita dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan balita. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penimbangan balita di Posyandu adalah:

1) Menggantungkan dacin pada dahan pohon atau palang rumah atau penyangga yang lain

2) Memeriksa apakah dacin sudah tergantung dengan kuat

3) Meletakkan bandul geser pada angka 0 (nol) sebelum dipakai

4) Memasang sarung timbang/celana timbang/kotak timbang pada dacin

5) Menyeimbangkan dacin yang sudah dibebani sarung timbang/kotak timbang

6) Melakukan penimbangan pada anak

7) Menentukan berat badan anak dengan membaca angka di ujung bandul geser

8) Mencatat hasil penimbangan di secarik kertas sebelum ditulis di KMS

9) Sebelum anak diturunkan, menggeser bandul geser ke angka 0 (nol) dan meletakkan batang dacin dalam tali pengaman.

Setelah anak selesai ditimbang, dilakukan pencatatan hasil penimbangan di KMS. Beberapa hal yang harus dilakukan kader adalah:

1) Pada penimbangan pertama :

a) mengisi semua kolom yang tersedia di KMS

b) mengisi bulan lahir anak pada kolom “bulan dan tahun kelahiran anak”

c) mengisi semua kolom bulan setelah kolom bulan lahir anak

d) membuat / meletakkan titik berat badan anak pada titik temu garis tegak dengan garis datar sesuai hasil timbangan.

2) Pada penimbangan selanjutnya, menghubungkan titik hasil penimbangan bulan sebelumnya dengan titik hasil penimbangan bulan sekarang.

3) Mencatat kejadian penting atau penyakit yang diderita anak dalam garis tegak sesuai bulan yang bersangkutan.

B. Penyuluhan Atas Dasar Hasil Penimbangan

Berbagai hal yang harus disampaikan kader dalam memberikan penyuluhan pada ibu balita berdasarkan hasil penimbangan adalah:

1) Pada penimbangan pertama

a) Kader menjelaskan bahwa hasil penimbangan belum dapat diketahui jika berat badan anak berada di garis hijau atau kuning

b) Menjelaskan bahwa berat badan anak tidak normal jika berat badan anak berada di garis merah.

c) Menganjurkan ibu untuk menimbangkan anaknya bulan depan secara teratur.

2) Pada penimbangan selanjutnya:

a) Jika bulan lalu tidak ditimbang, kader menjelaskan bahwa hasil penimbangan belum dapat diketahui kecuali jika didapatkan tanda/gejala penyakit.

b) Bila berat badan anak naik, memberi pujian pada ibu dan anaknya

c) Bila berat badan tidak naik, kader memberikan penyuluhan pada ibu menggunakan lembar Balik “Menuju Keluarga Sehat”

d) Kader menanyakan pola makan anak sehari-hari dan apakah anak sakit.

e) Menganjurkan ibu untuk menimbangkan anaknya secara teratur setiap bulan.

3) Bila berat badan anak tidak naik tiga kali berturut-turut atau berada di bawah garis merah:

a) Kader menjelaskan pada ibu arti grafik, menjelaskan bahwa anak memerlukan pemeriksaan dan pengobatan segera

b) Kader membuat surat pengantar dan menganjurkan ibu balita membawa anak ke Puskesmas.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses belajar khususnya dalam kegiatan penyuluhan antara lain lingkungan sosial, yaitu manusia dengan segala interaksinya, subyek belajar, perlengkapan belajar dan alat-alat peraga, materi yang dipelajari, penyuluh atau fasilitator belajar serta metode belajar mengajar.

C. Memberikan Penyuluhan Pedoman Pemberian Makanan Balita

Hal-hal yang dapat dilakukan kader dalam memberikan penyuluhan pada ibu-ibu balita adalah:

1) Menggunakan lembar balik untuk kegiatan penyuluhan

2) Memperagakan alat dan bahan yang tersedia

3) Membuat acara tanya jawab dengan ibu-ibu, tidak terus bicara sendiri.

4) Berterus terang bahwa tidak dapat menjawab bila ada pertanyaan yang sulit dijawab, selanjutnya akan ditanyakan pada petugas yang lebih memahami.

D. Melakukan Kunjungan Rumah Untuk Memantau Perkembangan Kesehatan Balita

Kegiatan:

1) Kunjungan rumah dilakukan kader kesehatan terhadap keluarga atau ibu-ibu yang

a) Balitanya tidak hadir dua kali berturut-turut di Pos Penimbangan

b) Balitanya yang bulan lalu dikirim ke Puskesmas karena sakit, berat badannya tidak naik selama tiga bulan beruturut-turut, dan berat badannya di bawah garis merah KMS

2) Kegiatan yang dilakukan saat kunjungan rumah :

a) Memberi penyuluhan kembali mengenai manfaat datang ke Posyandu

b) Menanyakan alasan tidak hadir ke Posyandu, dan keadaan keluarga ibu balita

c) Bila mendapatkan balita atau ibunya sakit, kader mengirim mereka ke Puskesmas dengan membuat Surat Pengantar.

d) Mendoakan keluarga agar cepat sembuh

e) Mengajak ibu balita untuk datang kembali ke Posyandu bulan depan.